Rabu, 28 September 2011

umii setiajii

cintaku hanya untukmu seorang

menjadi tokoh tapa tokoh

engarungi bahtera kehidupan fana, menyimpan sejuta warna, menghadirkan beragam suara, mendatangkan berbagai problematika, melukiskan kanvas-kanvas sketsa, memotret berbagai budaya.

Parmin berjalan menelusuri lorong-lorong, mengibas daun di pinggir jalan. Jalan setapak berakhir di ujung jalan, dia mulai melewati pematang sawah. Padi yang baru ditanam, melambai diterpa angin, melambai pelan pada siapapun yang melewatinya. Dia meloncati kali kecil di pinggir sawah, menyeberangi sungai dengan jembatan dari kayu, setiap kaki melangkah jembatan bergoyang, membangkitkan rasa khawatir. Langkah kaki yang mantap, tak ada sesuatu yang bisa menghalangi. Berjalan terus di antara pohon-pohon Jati yang berjejer, pohon-pohon yang mulai bertumbangan, dilahap kerakusan manusia. Sejauh mata memandang, pohon Jati tinggal satu dua dalam jarak pandang saling berjauhan, mungkin dalam waktu dekat akan habis.

Kaki melangkah melanjutkan perjalanan melewati rumah-rumah penduduk yang juga saling berjauhan. Hidup di desa terpencil, jauh dari hiruk pikuk keramaian. Hampir empat kilometer berjalan. Tak terasa keletihan tubuh, tak terasa kelelahan datang, tak terasa kepenatan, yang ada sebuah tanggung jawab di dada untuk mendidik generasi mendatang di desanya, generasi yang siapa tahu menentukan perubahan bangsa.

Pandangan mata menerawang, menerobos jarak yang mampu dijangkau panca indera. Dari kejauhan, bangunan Madrasah Diniyah dan Tsanawiyah yang dikelola Pesantren Al-Ihsan mulai terlihat. Perjalanan lima kilometer tidak memiliki arti, ketika tujuan hadir di depan mata. Setiap hari dia berjalan kaki menempuh jarak lima kilometer, agar bisa mengajar anak-anak di desanya.

Parmin berusaha datang pertama kali ke Madrasah, meski biasanya didahului pengelola pesantren. Dalam pandangan matanya terpampang jelas, guru harus menjadi tauladan bagi murid, termasuk datang duluan. Murid-murid di desanya tidak bersemangat belajar. Mereka kadang masuk, kadang tidak. Jumlah murid dalam kelas dalam kondisi normal sekitar 15-18 orang, satu kelas sering hanya berisi 10 orang saja, itu pun sebagian besar yang bermukim di pesantren. Pernah dia menyelidiki hal itu; ada yang membantu orang tua di ladang, ada yang ikut ibu berbelanja ke pasar yang berjarak dua puluh kilometer, ada yang membantu ayahnya memancing ikan di sungai, ada yang memang malas, tanpa ada perhatian serius dari orang tuanya.

Ini tidak menyurutkan langkah Parmin untuk tetap mengajar di Madrasah, dengan honor mengajar yang tidak seberapa jumlahnya, malah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dia bersemangat mengajar bukan melihat sisi materi yang didapatkan, tapi pengabdian hidup pada anak-anak di desanya, agar bisa menjadi anak-anak yang berpendidikan tidak seperti orang tuanya. Dia berkeyakinan, bahwa pendidikan merupakan sarana yang tepat membantu seseorang bisa mengarungi kehidupan, membentuk akhlak mulia, memperbaiki keadaan mereka di masa mendatang, sehingga dalam bertindak tidak hanya menggunakan perasaan, juga dengan pemikiran.

Guru di Madrasah berjumlah sembilan orang, setiap guru mengajar materi bermacam-macam dengan kelas berbeda. Semangat mengajar sejawatnya memang tidak seperti dirinya. Maka terkadang dia mengajar dua sampai tiga kelas berbeda dalam waktu bersamaan. Inilah yang memaksanya lebih rajin mengajar, jika tidak, akan banyak kelas kosong tanpa pengajaran. Sesuatu yang akan membahayakan kelangsungan Madarasah, dan membahayakan pendidikan murid secara keseluruhan. Hal inilah yang membuat pengelola pesantren menempatkannya sebagai guru teladan. Sebenarnya dia sering ditawari menetap di pesantren dengan dijamin kebutuhan hidupnya, dia tidak bersedia, sebab memiliki tanggung jawab berbeda di mushallah rumahnya.

Imajinasi yang terbang bebas di angkasa, mengepakkan sayap membelah awan, mengelilingi bumi secara bebas, membuat Parmin tak menyadari kehadiran murid-murid di Madrasah. Berarti pelajaran akan dimulai bersamaan dengan bel berdentang. Dia melangkah menuju ruang kelas IV Diniyah yang berada di tengah.
“Assalamu’alaikum, Anak-anak!”
“Wa’alaikum salam, Ustadz!”

Parmin muncul di depan pintu, disambut jabatan tangan murid-muridnya satu persatu, ada 11 orang yang hadir. Jabatan tangan murid dengan guru, menjadi simbol ikatan kuat antara mereka. Ikatan yang membuatnya betah mengajar dalam berbagai kondisi.
“Untuk pelajaran akhlak kali ini, kita akan membelajari bagaimana cara menghormati orang tua. Sudah siap Anak-anaaak?”
“Siaaap, Ustadz!”
“Coba kamu, Sutarji dan Sulis maju ke depan!” Dua orang murid maju ke depan.
“Yang lain perhatikan ke depan! Seandainya saya orang tua kalian berdua, apa yang dilakukan setelah pulang sekolah?”

“Langsung ke dapur, makan, Ustadz!” sahut salah seorang murid
“Huuuh! Makan saja yang di urus, nanti perut kamu meledak,” sahut yang lain.
“Ha ha ha!” Mereka tertawa, dia hanya tersenyum.
“Perhatikan kembali! Sulis dan Sutarji coba berdiri dekat pintu! Begitu pulang sekolah beri salam pada orang tua di dalam rumah! Coba beri salam.”

“Assalamu’alaikum!”
“Setelah itu cari orang tua kalian, jabat tangannya. Kalau saya orang tua kalian, coba jabat tangan saya!” Sulis dan Sutarji menjabat tangannya. “Begitulah cara menghormat pada orang tua sepulang sekolah. Mengerti Anak-anak?”
“Mengertiii!”
“Kalian berdua duduk kembali!”
“Assalamu’alaikum!” Suara seseorang dari luar kelas.
“Wa’alaikum salam. Silahkan masuk!”
“Ustadz! kelas III Tsanawiyah tidak ada gurunya,” ujar seorang murid setelah masuk ke dalam kelas.

“Tunggu sebentar, aku akan ke sana!”
“Baik, Ustadz!” Murid itu kembali ke kelasnya.
“Anak-anak, coba sekarang tulis bagaimana cara menghormati orang tua sepulang sekolah. Nanti saya nilai.”
Parmin melangkah menuju ruang kelas III Tsanawiyah, kebetulan materi yang diajarkan Bahasa Indonesia, dia mengajarkan tentang puisi. Dia mencatat puisi -hasil karya sendiri yang dicatat di buku harian- di papan tulis.

Aku bukan Aku
Aku wajah asli kebebasan
Berkehendak laksana buih di lautan
Berpikir menembus ruang waktu kehidupan
Bermain dalam pusaran
Bertindak di luar rel-rel yang ditentukan
Aku air mengalir
Memberi kehidupan sejagad raya
Memenuhi dahaga manusia
Menghijaukan bumi
Aku angin berhembus merona
Membelai manusia sengsara
Menghembuskan nafas-nafas bahagia
Menghapus duka lara
Aku manusia berusaha paripurna
Mengekspresikan diri dalam berbagai warna
Mengatur isi batok kepala
Menjelma penguasa diri
Menghidupkan hati nurani
Melahirkan bayi-bayi karsa
Memperbaiki keriput wajah dunia

“Anak-anak, tulis puisi ini! Setelah itu latihan membaca, nanti akan saya suruh satu persatu untuk membaca ke depan.”

Parmin melangkah ke luar, melanjutkan pelajaran akhlak di kelas IV Diniyah. Tugas yang tidak ringan, dijalani sepenuh hati, diserap sepenuh jiwa, dilaksanakan tanpa mengeluh.
Pukul 13.00 Parmin pulang ke rumah, sampai di rumah dua jam kemudian. Lalu melaksanakan shalat Asyar dan pergi ke ladang, menyirami ketimun yang hampir dipanen, membersihkan rumput-rumput dan menyabitnya untuk makanan kambing di kandang. Baru menjelang Magrib pulang ke rumah.

Parmin mandi, bersiap-siap mengajar mengaji. Dia mengajarkan anak-anak di surau yang tidak jauh dari rumahnya sampai Isya’. Selesai shalat Isya’ memberikan pengajian pada masyarakat desa sekitar satu jam. Baru makan malam dan bisa mengistirahatkan dirinya, ditemani seorang istri yang penuh pengertian, bersedia hidup berdua dalam segala kondisi, menerima apa adanya keberadaan suami. Bangun pagi buta, bersiap-siap mengajar di Madrasah kembali.

Begitulah kegiatan rutinnya setiap hari. Tidak terlontar dari kedua mulutnya keluhan, apalagi ratapan tak berguna, yang mendatangkan kesedihan dan mematahkan semangat di dada. Baginya kehidupan adalah kenyataan yang harus dijalani, baik pahit atau manis. Setiap warna kehidupan yang hadir akan menyimpan makna mendalam bagi diri. Pahit atau manis tergantung cara seseorang memandang kehidupan, kadang sesuatu yang pahit menjadi manis bila dipandang dengan benar, dan yang manis jadi pahit jika dipandang keliru.

Pernah suatu hari, tubuhnya panas, hampir mengurungkan niat untuk pergi mengajar. Bayangan murid yang terbengkalai, memaksanya berangkat mengajar, meski dilarang istrinya.
Penyakit ringan bukan penghalang untuk sebuah pengabdian. Keberangkatannya ke Madarasah, merupakan kemenangan batin atas kemanjaan tubuh lahiriah, yang menuntut dilayani dengan istirahat. Justru dengan berangkat mengajar, panas tubuh menjadi tak terasa. Sesampainya di Madrasah, dia merasa sehat kembali.

“Ustadz! Kenapa panjenengan betah menjalani kegiatan yang sangat padat ini?” tanya salah seorang penduduk.

“Menjalani kegiatan yang padat, bukan dilihat betah atau tidak, senang atau tidak. Bagaimana kegiatan itu dijalani lebih penting. Ketika waktu yang melingkupi kehidupan setiap hari, berhasil ditaklukkan dengan berbagai kegiatan, berarti kita memanfaatkan seluruh potensi yang dianugrahkan Allah pada kita. Anugerah berupa pikiran, hati, imajinasi, tubuh yang sehat, harus digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.”
“Imbalan pada panjenengan tidak sesuai dengan hasil yang diperoleh.”

“Jika kehidupan dipandang dari hasil, akan kiamat dunia ini. Sebab hasil tidak setiap saat seiring dengan proses, ketika tidak berimbang kita akan merasa kecewa, frustasi, stres, dan pusing. Maka melakukan suatu proses yang optimal, tidak harus mengharap hasil optimal pula. Percayalah! Dengan proses optimal, kita akan menggapai makna kehidupan yang dalam. Makna kehidupan yang akan menggiring pada kebijaksanaan, kebaikan tertinggi, kebahagian sempurna. Sehingga kita bisa menangkap ikan dalam air keruh tanpa riak.”
“Apa panjenengan sudah mencapai taraf itu?”

“Belum. Saya percaya akan mencapainya suatu saat. Waktu yang akan mencatat apa yang telah kita kerjakan di dunia, tempat perhentian sesaat yang sewaktu-waktu bisa ditingkalkan.”
“Ustadz adalah tokoh yang sebenarnya, yang diimpikan kehadirannya oleh seluruh rakyat Indonesia. Panjenengan figur yang tepat menjadi tokoh tanpa menjadi tokoh, yang mampu mengerahkan segala potensi yang dimiliki demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Tanpa melihat imbalan yang diperoleh, tanpa melihat hasil yang didapat, tanpa pamrih. Seharusnya Amien Rais, Aa Gym, Ary Ginanajar, Ilham Arifin, Gus Dur, Megawati, Soetanto dan Bambang Yudhoyono, belajar pada panjenengan. Kehadiran panjenengan lebih bermakna bagi rakyat dari tokoh itu sendiri. “

“Jangan bercanda!” Parmin tersenyum tulus. Senyum yang memberi tanda agar tidak hanyut buaian pujian. Pujian adalah racun yang bisa membunuh. Dia berhati-hati terhadap racun, maka tak pernah mempedulikannya.

Parmin ada karena ingin berada. Dia menjelma dalam kenyataan sebagai sosok yang mampu mengendalikan keinginan-keinginan sesaat tubuh, mengendalikan keinginan dari keinginan, membimbing hati pada pengabdian, mendorong pikiran mencerna kehidupan, menghidupkan imajinasi demi menggapai makna terselubung kehidupan yang selalu menyimpan misteri, memanfaatkan pikiran agar bermanfaat pada orang lain.

Misteri hidup yang tak akan terungkap jika pikiran hanya mengendalikan pikiran, hati mengendalikan hati, tubuh mengendalikan tubuh, imajinasi mengendalikan imajinasi. Merangkum semua potensi dalam suatu tindakan kehidupan, yang akan membimbing tersingkapnya misteri kehidupan manusia.

antara dua pilihan

Ruang keluarga itu tiba-tiba menjadi hening saat mereka mendengar langkah Arif memasukinya. Dengan perasaan malas, Arif pun menghentakan pantat nya di sofa yang paling ujung. Semua saudaranya menatap Arif dengan pandangan yang aneh, seolah –lah Arif adalah pesalah yang harus segera di adili.
“Rif,apa kamu tidak bisa mencari wanita lain selain dari dia! Apa sih yang bisa kamu banggakan dari wanita itu. Dia tu janda, ada anak lagi. Dia juga gak cantik-cantik amat , apalagi pendidikan nya, nol Rif. Dia juga bukan dari keturunan orang kaya, apa sih yang akan kamu banggakan dari wanita seperti itu. Kenapa kamu gak mau mencontoh kami, kakak-kakak mu.. Mas Imam, dia seorang pegawai negeri, Aku, seorang wakil Bupati. Mas mustofa, dia seorang alim ulama yang di segani masyarakat. Adik mu dik, dia serang Dokter, begitu pula ibu kita Rif, beliua seorang guru besar yang amat di hormati oleh warga. Nah kamu lihat! Isteri-isteri kami, mereka semua orang-orang yang berpendidikan, dan beriman. Tapi kamu…..!,Aku yakin kamu hanya akan mencoreng nama baik keluarga kita saja, dengan menikahi wanita itu. Kami tidak setuju kamu menikah dengan nya. Pokok nya sekarang kamu fikirkan baik-baik, kalau kamu memilh dia , maaf kami tak lagi menerima mu, pergilah kamu dengan nya…!” Hardik Mas Sri. . Nafas nya tersengal-sengal karena menahan emosi . Seisi ruangan diam. Semua saudara Arif seolah hendak mengatakan, bahwa apa yang baru saja di ucap kan Mas Sri adalah benar dan Arif harus menuruti nya.
“Apa perlu mbak carikan pendamping buat mu dik?” ucap mbak ipar Arif, memecah kesunyian. Arif masih diam. Jiwanya ingin berontak, kepalanya terasa berat, dadanya berdebar amat hebat, dan Arif merasa bahwa mereka telah mencampuri urusan pribadinya.Dia diam dalam perasaan yang tak menentu, karena dia merasa tidak terima kekasih yang di kenal nya ,yang di cintai nya di maki , dan di hina oleh saudaranya. Arif menghela nafas, di tatap nya satu per satu saudaranya, lalu dia beranjak tanpa berbicara sepatah kata pun.
“Rif……!” kembali mas Sri memanggil nya, namun sayang , Arif telah pun menutup pintu kamar nya.
“Ini semua gara – gara permpuan janda itu!” Mas Sri memekik sambil emosi. Semua saudara Arif hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala.
Arif adalah seorang pemuda dari keturunan orang berada di kota nya. Ayah ibu nya adalah seorang alim ulama , yang memiliki sebuah masjid agung, yang mampu menampung ribuan jemaah .Semua saudara Arif telah pun berkeluarga, dan telah memiliki pekerjaan yang tetap serta terhormat. Walau pun usia Arif telah dewasa, namun Arif belum juga mau menikah.
Enam tahun Arif menjadi seorang TKI(tenga kerja Indonesia) di Korea , kini dia bertambah dewasa. Mengerti arti hidup.Dan kini dia ingin membina mahligai rumah tangga.
Tiga tahun pertama di Korea, dia mengenal seorang wanita, dan Arif merasa cocok dengan nya. Bagi Arif status janda wanita itu memang tidak bermasalah, karena Arif sudah pun terlanjur sayang dengan nya. Arif bahkan sanggup menerima keadaan nya lahir dan batin. Namun, mengapa kini semua tiba-tiba mejadi masalah bagi keluarganya? Bukan kah aku yang akan menjalani nya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kini selalu berkecambuk dalam fikiran nya.
Sambil berbaring di ranjang, tak tersa tiba-tiba air mata Arif berderai membasahi bantal. Dia tak kuasa menahan gejolak amarah nya yang kini menggebu di dadanya. Arif memang mempunyai sifat yang lain dari saudara-saudaranya, dia lembut dan tidak tega-nan.
“Maaf kan aku sayang, ……”? bisik Arif, pelan, sambil mencium foto kekasih nya. Ada perasan bersalah yang bercokol dalam dadanya, pada wanita itu .Wanita yang amat di cintai nya. Bagi Arif, dia yang faham akan dirinya, dewasa, penyayang, ramah, yang memanjakan nya dan dia yang berpengalaman ,dia juga yang telah membuka hati nya akan arti kehidupan.
“Ya Allah……. Haruskah nasib cintaku berakhir sedemikian? Bukan kah kami saling mencintai, kami saling memahami, tapi mengapa mereka semua justeru tak memahami kami?” kembali Arif bertanya pada Bantal dan guling, lirih dam amat menyayat hati.
Dari balik pintu, sepasang bola mata menatap nya, sambil berdegup hatinya dan berurai air mata. Wanita itu lalu masuk. Beliau mengelus-elus rambut putra yang amat di cintai nya itu.
“Beristikharah lah Nak, Bunda yakin engkau akan temui jawaban nya di sana. Yakin lah, bahwa Allah selalu bersama dengan orang-orang yang beriman dan selalu berdoa , serta memohon padanya” tutur bunda , lembut sambil terus mengusap-usap kepala putra nya. Arif bangkit,lalu duduk di tepi bundanya. Ditatap nya raut sang bunda, lalu Arif menyandarkan kepala nya di pangkuan nya. Arif tahu betul sifat bundanya yang memanjakan dirinya sejak kecil.
Ada ketenagan tersendiri kala sang bunda membelai rambutnya. Bagai menemukan sebuah pancaran air di tengah panasnya gurun pasir sahara.
“Matur sembah nuwun Bunda “ ucap Arif pada sang bunda, atas pengertian nya. Sang bunda mengangguk.
Malam menjelang, Arif keluar dari kamar nya, lalu berwudhu dan shalat berjamaah bersama. Malam ini di rumah Arif ada acara selamatan, serta makan-makan ,untuk merayakan kepulangan Arif dari Korea.
“Dik , kemari……..,” panggil sang kakak ipar. Arif lalu mendekat.
“Ada apa kak?” jawab Arif yang sambil menggendong keponakan nya.
“Kenal kan ini dik Eka, dia masih kuliah dan masih gadis” jawab sang kakak ipar.
“Deg,…. “ jantung Arif berdebar. Arif kaget melihat wanita itu, dan Arif mampu menebak maksud kakak ipar nya. Wanita itu tersenyum manis pada Arif. Raut wajah nya merona kala, mata bertemu mata, dan Arif pun tersenyum pada Eka, tampak Eka menunduk malu dan grogi.
“Eh ….kalian ngobrol-ngobrol dulu ya, biar Mbak yang menggendong anak ini” sang kakak ipar pun mengambil bocah itu dari gendongan Arif, dan dengan sengaja membiarkan Arif berduaan dengan Eka. Arif pun mengajak Eka duduk di kursi. Grogi tampak dari cara mereka berdua berbicara dan bertatap
Sejak pertemuan itu Arif jadi bertambah gundah. Eka juga wanita yang cantik dan terpelajar, sopan, baik lagi. Namun niat Nya telah bulat, yaitu ingin memper istri kekasih yang telah di kenal nya , tiga tahun yang lalu, apapun yang terjadi. Karena itu lah janji mereka berdua, selama mereka bersama. Arif mendesah pelan, sendirian di depan jendela kamar nya.
” Malam yang indah seharusnya,” gumam nya sambil menikmati indah nya sang rembulan yang malu-malu bersembunnyi di balik awan. Terdengar dari jauh suara jangkrik, dan juga seekor codot yang mungkin tengah berpesta , saat pisang yang di incar-incar akhir nya masak juga. Arif kembali menarik pandangan matanya yang tersangkut di bulan, kini di pejam kan ke dua matanya , angan nya jauh melayang mengejar bayangan wajah dan tawa sang kekasih nya.
Kala pagi menyapa, Hand Phone nya pasti akan menjeri-njerit , memohon sang empu nya agar segera mengangkat nya.
“Assallamualaikum Mas,……bangun, shalat subuh dulu ya, “ terdengar merdu suara kekasih hatinya .Dia selalu membangunkan Arif agar tidak pernah alpa untuk memenuhi panggilan Nya. Dan Arif pasti akan segera menggeliat, sambil tersenyum bahagia.
“Iya Mam, aku jadi semakin tak sabar untuk hidup bersamamu sayang,” jawab Arif yang telah terbiasa memanggil kekasih nya sebagai isteri, yaitu sebutan Mam.
“Ya insya Allah Mas , semoga saja kita berjodoh, saya juga ingin menjadi seorang isteri buat Mas, dan saya ingin melayani semua keperluan mas. Saya ingin meng infak kan seluruh hidup ku di jalan Allah melalui Mas, “ jawab kekasih nya.
“Ya sudah , biar Papa shalat dulu ya , Mama di sana juga hati-hati ya. Muachhhhhh………. I love you so much” jawab Arif, sambil mencium Hand Phone nya seoalah dia tengah mencium bibir sang kekasih.
“Glubrak…….!”
Tiba-tiba suara gaduh kucing beradu kekuatan , membuyarkan lamunan Arif. Dia menghela nafas sambil mendekap dadanya yang masih berdebar karena rasa kaget nya tadi.
“Asstaghfirrullah hal adzim,” Arif terduduk di ranjang sambil bibir nya tak berhenti dari istighfar. Ya Allah, lindungi dia dari apa pun bahaya , karena aku amat mencintai nya ya Allah
Setelah kejadian tadi siang, Arif jadi enggan untuk keluar kamar, enggan pula untuk bertemu muka dengan saudara-saudaranya. Entah lah , ada sedikit perasaan kecewa pada semua nya, yang tak mau memahami isi hati nya.
Jarum jam telah menunjukan jam tiga dini hari, getar suara hand phone di sebelah bantal memekik. Dengan cepat Arif melihat nya.
“Mas, katanya minta di bangunin jam tiga? Ini sudah waktunya.Bangun ya.” begitulah isi sms nya. Arif langsung bangun , lalu beranjak ke kamar mandi dan mejalan shalat istikharah di masjid depan rumah nya.
Arif begitu khusuk nya ,menghadap sang khalik, sesudah itu ,dia menadah kan kedua tangan nya sambil bermunajat, dan berharap doanya di Kabul kan oleh yang di atas sana.
“Ya Allah, sesungguh nya aku memohon kepada Mu, memilih mana yang baik menurut pengetahuan Mu. Dan aku memohon kepada Mu , untuk memberi ketentuan dengan kekuasaan Mu. Dan aku memohon anugerah Mu yang agung, karena sesungguh nya engkau Maha kuasa, sedang aku tak memiliki kekuasaan. Engkau Maha mengetahui sedang aku tidak mengetahui. Engkaulah yang mengetahuiakan barang gaib, ya Allah, jika Engkau mengetahui perkara aku ingin hidup dengan Insan calon istriku, adalah baik baiku, buat agamaku, buat penghidupan ku dan baik akibat nya, maka tetapkan lah perkara ini untuk ku. Kemudian berilah berkah kebaikan untuk ku. Dan jika Engkau mengetahui sesungguh nya perkara ini jelek bagiku, bagi agamaku, bagi penghidupan ku , dan jelek akibat nya ,maka pisah kan lah kami, pisah yang baik- baik, dan lindungi kami, dari keburukan. Di mana saja berada , dan kemudian jadikan lah kami redha akan keputusan mu. Sungguh ya Allah niatku tulus dan suci , dan Engkaulah yang menjadi saksi bahwa kami saling mencintai.Ya Allah lembutkanlah hati keluarga kami , dan ku mohon syaat Mu, terima kasih ya Allah, amin ya Robbal Alamin,” Arif menunduk,sambil menyeka air matanya. Doa yang baru saja terucap membuat dadanya bergemuruh, memohon serta meyakini bahwa Allah pasti akan memberi jalan keluar buat nya. Tanpa sepengetahuan Arif, sang kakak yang ke tiga nya telah pun duduk tak jauh dari tempat sujud nya .
“Ehem….” suara Mas Mustafa, berdehem, lirih dan Arif agak terkejut mengetahui kakak nya berada di belakang nya.
“Dik, dalam pandangan islam, ada sebuah hadits yang mengupas soal mencari jodoh. Contoh nya yang sering kita baca, yaitu,hadist riwayat dari Abu Hurairah r.a. yang berbunyi separti ini. Dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, wanita itu di nikahi karena empat perkara, yang pertama; Karena harta benda nya, Yang kedua ; karena keturunan nya, yang ketiga ; karena kecantikan nya, dan yang ke empat, karena agama nya. Jika ketiga di antara nya tidak memenuhi , maka pilih lah karena agamanya. Insya Allah pilihan mu tidak salah dik” ucap Mas Mustofa, pelan namun mampu menggugah hati Arif.
“Oya Dik, apa dia bisa baca qur,an?” tanya Mas Mustofa.
“Allhamdullillah Mas, dia bisa, bahkan saya salut, dia wanita yang kuat, buktinya dia tak pernah lepas kerudung walaupun bekerja di Hongkong, “ jawab Arif, membesar kan hati. Sang kakak hanya menghela nafas, lalu berkata,
“Ya, semoga saja pilihan mu adalah pilihan yang tak keliru Dik. Aku sebagai mas , hanya mampu berdoa untuk kebahagian mu, aku yakin engkau lah yang tahu semua tentang dia, jadi mas yakin akan pilihan mu itu.” Ucap sang kakak , membesar kan hati adik nya, sambil menepuk bahu Arif.
“ Terima kasih ya Mas, saya akan mencoba tuk jadi diri saya sendiri, dan saya benar-benar perlukan doa Mas, semoga pilihan saya tidak keliru.”jawab Arif sambil memeluk tubuh mas nya . Mereka berdua pun berpelukan. Bagi Arif, saat itu bagai ada secercah sinar memasuki relung hati nya yang tengah di landa kegelisahan . Nasehat kakak nya mampu menyinari serta menyingkap awan keresahan nya
Hand phone Arif berdering, namun dia tahu siapa yang menelpon nya.Sebenar nya dia ingin membiarkan hand phone itu , namun tiba-tiba sang kakak ipar muncul dari dapur,
“Dik, hand phone mu bunyi tuh, wah nomer nya Eka kayak nya,” buru-buru sang kakak ipar memberikan nya, Arif pun terpaksa menjawab nya.
“ Wah , maaf sekali Dik Eka,….saya hari ada acara. Bagaimana kalau lain kali saja kita ketemu nya.” Ucap Arif, kala wanita yang baru di kenal nya itu mengajak tuk bertemu, di restorant siang nanti. Sang kakak ipar yang mendengar nya , hanya menggeleng, sambil bibir nya di menceng kan, seolah tengah mencibir.
Arif memegangi kotak kecil yang berisikan cincin emas. Renacanya, dia akan segera ke sana , ke tempat pujaan hati nya, kalau sudah ada waktu yang tepat.
“Sayang,….. tunggu Papa ya.”
Seminggu berlalu. Jauh di sebuah laut selatan, tampak seorang wanita tengah bermain-main dengan putra seamata wayang nya. Jilbab biru yang di kenakan nya menari-nari, di terpa angin yang sepoi. Wajah nya tampak murung , namun dia mencoba untuk ceria di depan putra nya. Dia berlari-lari kecil, sambil mencangklong sandal jepit nya, demi bermain-main dengan putranya. Bahagia rasanya , apabila telah bertemu dengan putra yang amat di cintai dan bermain bersama. Kepulangan nya kini , adalah untuk yang seterus nya, karena dia berjanji pada putra nya untuk tidak kembali merantau. Di lihat nya hand phone di saku gamis, namun tiada yang menyapa nya, baik sms maupun telpon. Dia mendesah. Hati nya gundah, ingin dia mendengar suara kekasih nya , namun mengapa sampai saat ini dia tak ada kabar juga? Dia mencoba untuk mejawab sendiri pertanyaan itu, dengan prasangka yang baik. Semoga mas baik-baik saja ya,
“Mah, kok Om Arif gak datang lagi, apa dia baik- baik saja? Oya, dia baik sekali ya Mah, Syekh mau punya papa seperti dia, he he….” Mendengar ucapan polos putra nya, hati Insan bagai ter iris-iris. Anak itu tak tahu tentang pargolakan yang tengah melanda ibu nya beserta Arif. Di dekap nya tubuh mungil itu, lalu di ciumi nya, walau air mata nya berderai, namun Insan mencoba untuk tersenyum di depan sang buah hati nya.
“Ya Allah, andai bukan dia yang Engkau anugerah kan padaku, biarlah, aku yang akan memilih Mu sebagai tujuan akhir perjalan cintaku. Aku yakin meraih cinta hakiki Mu, lebih indah dari pada cinta-cinta di dunia yang penuh dengan dusta ini,”.
Mobil sedan hitam memasuki halaman rumah. Syekh melonjak-lonjak kegirangan.
“ Mama, ….. Mama,…… Om Arif datang.”

cerpen remaja gita

Kadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Di sitiulah perasaan bermakna, salah satunya adalah cinta. Apa yang dialami Gita memang biasa, terjadi pada manusia umumnya. Tetapi ini menjadi luar biasa, ketika ia merasa bahwa simpatinya sebagaimana pungguk merindukan bulan.

Sudah dua minggu ia memendam seribu rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang saat melihat sang pujaan hatinya.

“Kita pilih duduk di sini aja. Ayo dong ceritain gebetan barumu,” tiba-tiba terdengan suara serak yang mengusik lamunan Gita.
“Iya... Ri, mumpung kita ngumpul nih,” jawab teman Qori. Gita

“Masak lo main rahasiaan sama geng sndiri,” tutur temannya lagi.
Gita mendadak gugup. Nggak salah lagi itu Qori. Qori dari geng The SRIES, cowok yang sangat dikagumi para cewek-cewek di sekolah.

Gita nyaris nggak bergerak. Mneyadari cowok tampan yang sedang ditaksirnya itu ada di meja belakangnya. Saat sedang barengan dengan teman-teman aja Gita sudah nervous .... apalagi sekarang ia sedang sendirian. Tapi untuk yang satu ini, rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Dan apa tadi? Mereka lagi ngomong soal gebetannya Qori. Wah..... Wah....

“Jadi bener nih, dia tinggal di jalan Tumbuhan?” tanya teman Qori.
Deg, Gita nyaris tersentak. Bukankah itu jalan tempat ia tinggal? Jalan itukan kecil, jadi ia kenal hampir semua penghuninya. Kayaknya nggak ada yang seumuran dia, rata-rata sudah kuliah dan kerja. Rasa ingin tahunya semakin memuncak.

“Iya, anak kelas satu juga. aku memang naksir dia. Soalnya dia manis banget, pintar dan baik. Pasti dong banyak saingannya. Makanya aku jaga jarak biar dia penasaran,” suara Qori terdengar riang.

Jantung Gita berdegup kencang. Ia semakin yakin , selain dia ngak ada anak kelas satu SMA tinggal di jalan itu. Kalau masalah kecerdasan otak, Gita memang selalu jadi juara satu sejak cawu pertama. Semuanya klop. Mungkin yang dimaksud Qori itu dirinya?.

“Wah, playboy satu ini sudah berketuk lutut. Terus kapan dong kamu nembak dia?” desak temannya.

“Oh my god,” Gita nyaris menahan napas.
“Eh, ngomong-ngomong siapa namanya?” tanya temannya lagi.
“Gita,” jawab Qori.

Kali ini Gita nyaris nggak mampu menahan diri. Ingin rasanya ia melompat dan berteriak, kalau saja nggak ingat di mana dia berada sekarang. Ini benar-benar keajaiban. Qori naksir dia. Berita ini wajib diceritakan pada sohib-sohibnya.

Pukul setengah tujuh malam, semua persiapan sudah sempurna. Sekarang Qori naksir dia. Primadona sekolah itu menyukai gadis biasa seperti dia. Gita bernyanyi bahagia.
“Kamu nggak sedang melamun Git?” kata Intan sambil terkikik.

“Iya Git, jangan-jangan itu cuma halusinasi aja,” timpal Shafina.
Gita pura-pura merengut sambil berucap “Pendengaranku masih normal dan aku nggak bakalan cerita kalau tahu reaksi kalian begini”.

“Bukan begitu Git, Kalau benar Qori naksir kamu, kok bisa tenang-tenang aja sih?” kata Intan dan Shafina.

Ruth mencoba menengahi. “Kan Qori sendiri yang bilang dia sengaja jaga jarak biar surprise”.
“Udah deh, pokoknya mulai besok akan bakal jadi cewek paling bahagia di dunia,” ujar Gita tersenyum bahagia.

Keesokan harinya, bel rumah berbunyi. Dengan ceria Gita menghambur ke pintu, tapi ternyata yang datang Kak Adi, pacarnya mbak Enes. Keduanya lalu pergi, sementara Mama dan Papanya sudah berangkat ke acara resepsi. Di rumah hanya ada Gita dan mbak Tami.

Gita mulai tidang sabar. SEdari tadi sohib-sohibnya terus menelpon dan membuatnya tambah be te.

“Gita bangaun! Kok ketiduran di sini?” suara Mamanya terdengar sayup. Gita membuka matanya, ternyata Mama dan Papanya sudah pulang.

“O ya, Qori! Astaga, setengah sepuluh malam”Gita melonjak. Ternyata Qori tidak datang dari tadi. Gita mulai kebingungan.

Gita akhirnya ikut ajakan orang tuanya untuk mencari makan malam di luar.
“O ya Gita. Mama lupa cerita tentang cucunya Bu Nanda, padahal sudah sebulan lo. Kapan-kapan kamu main ke sana ya?” tiba-tiba Mamanya bercerita. Gita cuma mengangguk tanpa semangat.

Ketika melewati rumah Bu Nanda, Gita melihat seorang gadis cantik lekuar dari rumah diikuti seorang cowok. “Oh my god”, Gita terkejut bukan main. Berkali-kali dikedipkan matanya, berharap yang dilihatnya itu orang lain. Tapi sia-sia, cowok itu benar-benar Qori. Mereka berdua kelihatan akrab sekali.

Dengan gemetar Gita bertanya pada Mamanya, “siapa nama gadis itu Ma?
“Kebetulan namanya sama dengan kamu .... Gita,” jawab Mamanya.
Gita terkulai menyadari impiannya hancur oleh kebodohannya sendiri. Seharusnya ia mendengarkan ucapan sohibnya. Dan celakanya Gita terlanjur begitu berharap. Dia merasa marah, kecewa dan ... malu sekali.

Senin, 26 September 2011

ciinta penderitaan tiada akhir

Cinta...
Aku menunggumu
Di sela-sela sekaratku
Sekarat berucap, menyengat senyap
Cinta...
Aku menyumpahimu
Sakiti aku, sesati langkahku
Dimanapun hadir, dimanapun getir
Cinta...
Aku meludahimu
Perasaanku dipermainkan
Jasadku kurus, keramaian hangus
Cinta...
Aku mencintaimu
Di sini depan cahaya
Menyadari tiba dalang bahaya
Lagi-lagi aku termakan hati
Merasakanmu menikmatimu
Tiada tanda baca
Tanpa akhir
getir

ramadhan yang indah

ramadhan ini saya merasa senang , karena berbuka dapat ditemani sekeluarga kami .
setiap sore saya dan ibu memasak untuk berbuka puasa .